BAZNAS LOMBOK TENGAH TERAPKAN TEKNOLOGI DIGITALISASI PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN ZAKAT

Christine Ullyana, perwakilan dari Bank Muamalat Indonesia saat memberikan pelatihan penggunaan aplikasi pembayaran zakat di kantor Baznas Lombok Tengah, Kamis, 12 Maret 2020

Penggunaan teknologi dalam kehidupan manusia merupakan sebuah keniscayaan. Dengan teknologi, pekerjaan manusia akan semakin mudah dan teratur. Namun, pemanfaatan teknologi seharusnya tidak terbatas pada hal-hal yang bersifat duniawi saja, melainkan juga untuk hal-hal yang bersifat ukhrawi (agama), termasuk dalam pengelolaan zakat.

Baznas Lombok Tengah adalah salah satu lembaga zakat yang menggunakan teknologi digitalisasi dalam pembayaran dan pengelolaan zakat. Selain untuk efektifitas, teknologi tersebut juga merupakan salah satu bentuk tranparansi dalam pengelolaan zakat. Dengan adanya transparansi tersebut, diharapkan kepercayaan masyarakat untuk membayar zakat melalui lembaga akan semakin meningkat.

Dalam upaya transparansi pengelolaan zakat, Baznas Lombok Tengah berkerja sama dengan Bank Muamalat Indonesia. Kerjasama tersebut berupa aplikasi pencatatan zakat yang terintegrasi secara langsung dengan Bank Muamalat. Nantinya, dana zakat yang masuk akan dilaporkan secara langsung ke Baznas Lombok Tengah melalui aplikasi yang bernama ZISWAFQU.  Laporan tersebut meliputi nama muzakki, jumlah Zakat, Infaq dan Shadaqah (ZIS) yang dikeluarkan dan waktu saat ZIS tersebut dikeluarkan.

Untuk mempermudah dalam pengoperasian aplikasi, Bank Muamalat memberikan pelatihan khusus kepada para pengurus Unit Pengumpul Zakat (UPZ) . Dalam hal ini, para pengurus UPZ tersebut dilatih secara langsung oleh salah satu perwakilan Bank Muamalat dari Jakarta, yaitu Christine Ullyana yang merupakan Head Islamic Enterprise and Alliance Funding Bank Muamalat Indonesia. Selain itu, turut hadir dalam pelatihan tersebut yaitu Nasrullah yang merupakan Direktur Utama Bank Muamalat Nusa Tenggara Barat.

Christine Ullyana dalam pemaparannya mengungkapkan bahwa dengan system (teknologi) ini, pengelolaan zakat akan semakin baik dan teratur. Teknologi ini akan meninggalkan cara lama yang bersifat manual yang datanya sangat mudah dimanipulasi. Ia juga mengungkapkan bahwa salah satu alasan masyarakat tidak menyalurkan zakatnya melalui lembaga zakat adalah karena kurangnya rasa percaya mereka akan pengelolaan zakat tersebut. Mereka menganggap bahwa zakat yang sudah mereka keluarkan tidak tersalurkan dengan baik.

Namun dengan adanya aplikasi pembayaran zakat ini, masyarakat tidak perlu khawatir lagi zakat yang mereka keluarkan akan diselewengkan.“Dengan aplikasi pembayaran zakat ini, masyarakat tidak perlu lagi merasa khawatir terhadap zakat yang mereka keluarkan karena Zakat, Infaq, dan Shadaqah yang  dikeluarkan akan tercatat secara langsung oleh aplikasi mulai dari nama muzakki, jumlah yang dikeluarkan sampai waktu saat transaksi zakat.” Tuturnya di sela sela pelatihan.

Adapun terkait insentif yang diperoleh oleh pengurus UPZ, mereka akan mendapatkan 10 % dari total dana ZIS yang berhasil mereka kumpulkan. Sebagai contoh, misalnya sebuah UPZ di desa A berhasil mengumpulkan dana ZIS sebesar Rp 500 juta, maka mereka berhak mendapatkan 10 % dari total perolehan tersebut, yaitu 50 juta. Pada intinya, semakin banyak jumlah dana ZIS yang berhasil dikumpulkan, maka semakin banyak jumlah insentif yang  diperoleh.

Oleh karena itu, para pengurus UPZ tersebut diharapkan mampu menggarap potensi-potensi zakat yang terdapat di wilayah mereka. Semakin banyak dana ZIS yang terkumpul, maka jumlah mustahik yang terjangkau pun akan lebih maksimal. Dengan demikian, manfaat dari dana ZIS tersebut akan semakin dirasakan oleh masyarakat, khususnya bagi golongan yang kurang mampu.

Posted by Humas Baznas Lombok Tengah…..

Please follow and like us:

Post Author: Baznas Lombok Tengah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *